Manfaat Sila
Oleh Yang Mulia Bhikkhu Uttamo Thera
Kalau kita mengamati ajaran Sang Buddha maka kita akan sampai pada satu kesimpulan pokok bahwa sesungguhnya ajaran Sang Buddha bukan hanya sekedar upacara sembahyang saja, atau bahan diskusi, bahkan bukan pula merupakan suatu pengetahuan umum. Tetapi lebih dari itu, ajaran Sang Buddha membutuhkan pelaksanaan di dalam kehidupan kita sehari-hari.
Dalam salah satu kotbahnya, Sang Buddha menyatakan: "Dhamma Care Sukham Seti",
yang berarti: mereka yang melaksanakan Dhamma, merekalah yang akan
memperoleh kebahagiaan. Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa
sesungguhnya Dhamma adalah untuk dilaksanakan.
Sekarang
yang menjadi persoalan adalah bagaimanakah pelaksanaan Dhamma itu?
Sesungguhnya pelaksanaan ajaran Sang Buddha itu banyak dapat kita
temukan di dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah melatih
kesabaran. Walaupun kesabaran ini sering dikumandangkan di mana-mana,
tetapi dalam pelaksanaannya hal tersebut seringkali menimbulkan
pertentangan. Tentu bukanlah suatu hal yang mudah untuk melatih
kesabaran di dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi mereka yang
masih muda dan penuh semangat. Sebaliknya apabila kita mampu mengolah
dan menyalurkan energi dan semangat menjadi hal-hal yang positif maka
hal tersebut akan bermanfaat sekali. Lalu bagaimanakah cara melatih
kesabaran itu, terutama bagi kita yang masih muda? Salah satu cara
sederhana yang telah menjadi petunjuk untuk melatih kesabaran adalah
dengan melaksanakan "sila", 5 (lima) sila setiap hari dan 8 (delapan) sila pada hari-hari tertentu. Tentu hal ini akan menimbulkan pertanyaan: Bagaimanakah hubungan sila dengan melatih kesabaran?
Untuk
itu mari kita tinjau sila yang pertama. Sila yang pertama adalah tidak
melakukan penganiayaan maupun pembunuhan terhadap makhluk- makhluk yang
bernapas (mempunyai napas). Penganiayaan dan pembunuhan merupakan dua
hal yang saling berdekatan. Pembunuhan yang tidak sukses disebut
penganiayaan. Sebaliknya penganiayaan yang sukses disebut pembunuhan.
Mengapa pembunuhan dan penganiayaan bisa mempunyai hubungan dengan
kesabaran? Misalnya di rumah kita ada seekor kecoa; apa yang akan kita
lakukan? Apakah kita akan menginjak kecoa itu ataukah kita biarkan saja?
Ini adalah pilihan untuk mengukur sampai sejauh mana sila bisa kita
laksanakan di dalam kehidupan sehari-hari. Sila yang dilaksanakan dengan
baik akan menjadi "rem" otomatis untuk perbuatan-perbuatan kita,
sehingga pelaksanaan sila pertama di dalam kehidupan sehari-hari dengan
sendirinya merupakan suatu cara untuk melatih kesabaran.
Sila
yang kedua adalah menghindari mengambil barang yang tidak diberikan
dengan sah atau bukan miliknya. Ini pun ada hubungannya dengan melatih
kesabaran. Misalnya kita tinggal di satu rumah kost, dan kebetulan teman
sekamar kita sedang pulang kampung, padahal kita ingin meminjam
pakaiannya. Akhirnya kita memakai pakaian tersebut tanpa
sepengetahuannya. Setelah selesai, pakaian tersebut kita kembalikan
seperti keadaan semula. Perbuatan meminjam pakaian teman kita itu dapat
dikatakan termasuk pelanggaran sila kedua, karena perbuatan tersebut
adalah mengambil barang yang tidak diberikan dengan sah dan tanpa izin.
Jadi sila kedua tidak selalu berarti mencuri milik orang lain.
Sila
yang ketiga adalah tidak melakukan pelanggaran kesusilaan. Di zaman
yang serba canggih dan modern ini, orang seringkali ingin melangsungkan
segala sesuatunya dengan serba cepat dan singkat. Bahkan hal tersebut
sudah terkenal di kalangan generasi muda. Hubungan seks pranikah dan
kehamilan usia remaja bukanlah suatu hal yang asing dan tabu lagi di
zaman yang serba cepat ini. Kalau para generasi muda yang mempelajari
sila di dalam agama Buddha masih bertingkah-laku demikian maka
sesungguhnya sila ketiga ini baru sampai taraf ilmu pengetahuan saja,
belum sampai pada pelaksanaan. Tetapi kalau kita mau melaksanakan sila,
tentu kita akan berusaha untuk bersabar. Dan sila ini akan menjadi rem
otomatis sehingga tidak terjadi pelanggaran terhadap kesusilaan. Ini
adalah melatih kesabaran.
Demikian
juga dengan sila yang keempat, yaitu menghindari ucapan yang tidak
benar; misalnya dengan tidak berbohong. Contoh yang sederhana misalnya:
setelah selesai kebaktian, kita ikut membereskan altar. Kita membantu
membawakan barang-barang ke bawah. Tetapi ketika itu barang yang kita
bawa jatuh menggelinding dan rusak. Kita kemudian ditanya: "Kamu membawanya tidak hati-hati, ya?" Apa jawaban kita? "O... tadi saya disenggol orang." Jawaban
ini memberi kesan seolah-olah pada waktu memegang barang tadi, kita
disenggol orang. Padahal kita disenggol orang ketika belum memegang
apa-apa. Ini sebetulnya adalah suatu kebohongan. Mengapa kita berbohong?
Mengapa kebohongan ini menjadi tidak sabar? Kita bohong karena kita
takut dimarahi dan malu pada teman-teman yang lain. Hal inilah yang
mendorong kita menjadi tidak sabar dan berbohong. Oleh karena itu
melatih tidak berbohong, dengan mengatakan yang sejujurnya, hal tersebut
sesungguhnya juga merupakan suatu cara untuk melatih kesabaran.
Sila
yang kelima adalah menghindari segala minuman keras yang dapat
menyebabkan lemahnya kesabaran. Bagaimanakah hubungan sila kelima ini
dengan melatih kesabaran? Ada sebagian orang yang cenderung lari dari
kenyataan apabila sedang menghadapi permasalahan yang berat, yang tidak
bisa diselesaikan dengan segera, yaitu dengan jalan mabuk-mabukan.
Karena mabuk-mabukan itu adalah salah satu cara untuk melarikan diri
dari permasalahan. Tetapi kalau kita mau bersabar, berusaha menghadapi
kenyataan sebagaimana adanya; sesungguhnya hal tersebut merupakan suatu
latihan kesabaran.
Selanjutnya,
sila yang keenam adalah menghindari makan-makanan setelah tengah hari.
Batas waktu makan yang diberikan adalah antara pukul 06:00 pagi sampai
dengan pukul 12:00 siang. Meskipun demikian, hal ini tidak berarti bahwa
selama jangka waktu tersebut lalu kita makan sesering mungkin. Bukan
demikian, tetapi kita berusaha untuk menggunakannya sesedikit mungkin.
Bahkan kadang-kadang digunakan hanya 2 kali saja, yaitu pukul 07:00 pagi
dan pukul 11:00 siang.
Apa hubungannya melatih kesabaran dengan tidak makan?
Sebagai
umat Buddha yang meyakini Hukum kelahiran kembali, sebetulnya kita
sudah mengalami kelahiran berjuta-juta kali. Begitu pula halnya dengan
kelaparan. Tentu sudah berjuta-juta kali pula kita merasakan lapar.
Dengan mengendalikan keinginan makan yang telah muncul berjuta-juta
tahun yang lampau; secara tidak langsung sebetulnya hal tersebut juga
merupakan latihan untuk mengendalikan emosi. Mengapa demikian? Kalau
kita mampu mengendalikan keinginan makan yang telah muncul berjuta-juta
tahun yang lampau, mengapa kita tidak bisa menahan diri untuk tidak
marah, misalnya. Dengan cara itu kita bisa menghadapi segala sesuatunya
dengan tenang dan tidak emosi. Walaupun cara menahan makan ini merupakan
suatu cara yang sederhana, tetapi cara ini ada kaitannya dengan
kesabaran.
Kemudian
sila yang ketujuh adalah melatih diri untuk tidak menggunakan
wangi-wangian, tidak menggunakan perhiasan, tidak bersenang-senang,
tidak bermewah-mewah. Demikian pula halnya dengan sila yang ke delapan
yaitu mengurangi duduk dan berbaring di tempat yang mewah. Bagaimanakah
hubungan sila ke tujuh dan sila ke delapan ini dengan melatih kesabaran?
Kadang-kadang kita ingin menunjukkan 1 hal yang lebih kepada orang
lain. Misalnya dengan memakai wangi-wangian. Tetapi kalau kita berusaha
mengurangi ke-aku-an, yaitu dengan memakainya pada waktu-waktu tertentu
saja, maka hal tersebut sesungguhnya merupakan suatu cara untuk melatih
kesabaran. Meskipun demikian, hal tersebut tidak berarti bahwa kita
sebagai umat Buddha tidak boleh menggunakan wangi-wangian/perhiasan,
tidak boleh bersenang-senang/bermewah-mewahan. Di sini kita perlu
menyadari bahwa tidak setiap keinginan yang muncul harus dilaksanakan.
Kadang-kadang ada keinginan yang harus kita tunda pelaksanaannya. Inilah
yang disebut dengan melatih kesabaran.
Inilah cara-cara untuk melatih kesabaran, cara untuk melaksanakan ajaran Sang Buddha. Dengan menjalankan "sila"atau
latihan kemoralan, yaitu 5 sila setiap hari dan 8 sila pada hari-hari
tertentu misalnya pada hari uposatha setiap tanggal 1 dan 15 menurut
penanggalan bulan/imlek, berarti Saudara berusaha untuk melatih
kesabaran, mengurangi ke-aku-an, ketamakan, kebencian dan kegelapan
batin.
Oleh
karena itu, jadilah umat Buddha yang melaksanakan ajaran Sang Buddha.
Bukan hanya menjadikan ajaran Sang Buddha sebagai pengetahuan umum,
tetapi menjadikan ajaran Sang Buddha sebagai jalan hidup.
Sehingga akhirnya seperti sabda Sang Buddha: "Dhamma Care Sukham Seti",
mereka yang melaksanakan Dhamma, merekalah yang akan memperoleh
kebahagiaan. Dengan melaksanakan 5 sila setiap hari dan 8 sila pada
hari-hari tertentu maka Saudara akan memperoleh kebahagiaan.
[Dikutip dari Website Samaggi-phala. WWW.Samaggi-Phala.or.id .]
0 komentar:
Posting Komentar