Ateism
Ateisme adalah tema yang kontroversial. Orang yang mengaku dirinya ateis sering dicap tidak bermoral, dan jelmaan setan. Namun kenyataan berbicara berbeda. Ternyata ada orang yang menyatakan dirinya ateis hidup amat bermoral, dan memiliki etos kerja amat baik. Apa yang terjadi? Darimana ia memperoleh sumber nilai moralnya, jika bukan dari agama?
Inilah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Edvin Mario Suryawan, ketika menjadi pembicara dalam diskusi System Thinking Ateisme, yang dilakukan di Fakultas Psikologi, UNIKA Widya Mandala Surabaya dalam kerja sama dengan Fakultas Filsafat di universitas yang sama. Pertanyaan ini lahir dari penelitian yang dilakukan oleh Edvin untuk skripsinya di Fakultas Psikologi. Diskusi berjalan dari pk. 09.15-11.30 pada Sabtu 9 April 2011.
Definisi ateisme itu licin bagai belut. Tak ada yang sungguh persis menggambarkan fenomena ini, baik secara individual maupun sebagai gejala sosial. Namun setelah melalui proses diskusi panjang, kelompok diskusi ini menyepakati satu definisi; ateisme sebagai penolakan terhadap keberadaan Tuhan, maupun entitas-entitas lain yang menyerupainya (supranatural). Walaupun tak sempurna namun definisi ini bisa digunakan sebagai titik pijak untuk penelitian lebih jauh.
Jika tidak ada Tuhan, lalu mengapa orang harus hidup baik? Dari mana orang menemukan nilai-nilai luhur, jika Tuhan dalam agama tidak mewahyukan itu padanya? Inilah dua masalah yang menjadi pergulatan Edvin, ketika memulai penelitiannya soal ateisme. Di dalam penelitian singkat ditemukan, bahwa ternyata orang-orang yang mengaku dirinya ateis cenderung lebih bermoral dalam hidupnya, daripada orang-orang yang amat berbangga menyatakan dirinya beragama.
Orang ateis tidak melakukan diskriminasi. Sementara banyak orang beragama melakukannya. Orang ateis tidak pernah memusuhi kelompok yang lain dari mereka. Sementara orang beragama rutin melakukannya. Inilah hasil dari penelitian singkat yang sebelumnya telah dilakukan oleh Edvin. Pertanyaannya lalu; mengapa ini terjadi?
Setelah melakukan diskusi cukup panjang, kelompok System Thinking sampai pada hipotesis, bahwa sumber moralitas bagi kaum ateis adalah akal budi. Mereka tidak berpijak pada iman pada agama tertentu, melainkan pada penalaran rasional, guna menentukan apa yang baik dan apa yang tidak. Tak heran di negara-negara yang terdiri dari mayoritas warga ateis, tata kota dan pemerintahannya amat rasional dan efisien. Hipotesis ini tentu masih perlu untuk diuji dan diteliti lebih jauh.
Namun masih ada beberapa pertanyaan yang menggantung, seperti apakah benar orang-orang beragama selalu irasional? Mungkinkah orang bisa menjadi ateis, ketika secara genetis, orang sudah selalu terarah pada Tuhan yang mungkin saja menciptakannya? Penelitian tentang ateisme dan problematik di belakangnya masih amat ketinggalan di Indonesia. Penelitian yang dilakukan Edvin ini amat berguna, supaya bangsa kita lebih terbuka pada beragam bentuk kehidupan, dan secara rasional menanggapinya.
Diskusi berakhir pada pk. 11.30. Edvin tampak kebingungan. Ia tampak memiliki banyak ide di kepalanya tentang ateisme, namun kesulitan untuk menuangkannya secara sistematis. Itu wajar. Inilah penelitian. Inilah proses belajar. Kita perlu lebih banyak melakukan diskusi-diskusi semacam ini, guna menajamkan penelitian yang tengah berlangsung.
Penulis adalah Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya
Oleh Reza A.A Wattimena
https://rumahfilsafat.com/2011/04/11/ateisme-dan-problematik-di-belakangnya/#more-1227
0 komentar:
Posting Komentar