Rabu, 24 Agustus 2016

Agama dan Kemunafikan


        Ada dua pandangan tentang kaitan antara agama dan kemunafikan. Di satu sisi, orang bodoh dan munafik memeluk agama tertentu, sehingga agama tersebut membenarkan kemunafikan dan kebodohannya. Inilah cikal bakal segala bentuk kemunafikan dan kebodohan atas nama agama yang banyak kita lihat sehari-hari, mulai dari pembenaran atas kekerasan, nafsu birahi, sampai dengan kerakusan atas harta dan kuasa yang dibalut dengan ayat-ayat suci.

        Di sisi lain, agama itu sendiri sudah selalu mengandung kemunafikan di dalamnya. Dengan kata lain, jauh di jantung agama-agama, ada hal yang membuat orang biasa menjadi munafik dan bodoh. Pandangan kontroversial inilah yang hendak saya gali lebih dalam.

Ketidakmungkinan

        Agama adalah lembaga yang dibangun berdasarkan pada seperangkat nilai dan prinsip tertentu yang, menurut keyakinan mereka, berasal dari Tuhan, atau entitas transenden lainnya. Agama menawarkan arah kehidupan yang ideal pada pemeluknya. Arah kehidupan tersebut, juga menurut keyakinan mereka, akan menuntun orang ke Surga, atau tempat indah lainnya di dalam bayangan mereka. Jika melanggar atau melawan ajarannnya, maka neraka, atau tempat terkutuk lainnya, sudah siap menanti.
        Masalahnya, prinsip dan nilai yang diajarkan agama tersebut tidak akan pernah terwujud di dalam kehidupan. Bahkan, para pemuka agama tersebut pun yang, seringkali secara tersembunyi, melanggarnya. Ketidakmungkinan dari prinsip dan nilai tersebut membuat banyak orang frustasi. Mereka selalu merasa kurang, berdosa dan tak berdaya.
Ada orang yang memilih untuk tetap merasa berdosa, dan kemudian menjadi semakin saleh menekuni agamanya. Orang-orang semacam ini mudah sekali diperalat oleh para pemuka agama untuk menjadi robot-robot patuh yang siap dihisap uangnya, atau diminta menggendong bom bunuh diri, demi harapan surga setelah mati.
        Ada orang yang kemudian menyerah, dan kemudian memilih untuk menggunakan ajaran dan prinsip moral agamis untuk membenarkan hal-hal bejat di hati dan perbuatannya. Inilah orang-orang munafik yang berjubah dan fasih mengutip ayat suci, tetapi penuh cela di hati dan kehidupan sehari-harinya. Kita banyak melihat orang semacam ini di Indonesia.
Di hadapan keluruhan prinsip dan ajaran agamis, yang tak akan pernah mungkin menjadi kenyataan, orang jatuh ke dalam perasaan tak berdaya dan kemunafikan. Keduanya adalah penderitaan, baik bagi orang yang mengalaminya, maupun orang-orang sekitarnya. Ini tentu bukan merupakan keniscayaan. Ada jalan lain yang tentu bisa ditempuh.

Tegangan Kreatif
 
        Akar kemunafikan adalah perbedaan yang begitu tajam antara kata dan tindakan. Perbedaan ini tentu tidak selalu bermuara pada kemunafikan. Ia bisa menjadi tegangan kreatif untuk mendorong orang untuk menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya. Ia juga bisa membawa orang untuk berkembang keluar dari kesempitan pikiran dan pertimbangannya.
        Bagaimana menumbuhkan tegangan kreatif ini, dan menjauhkan orang dari kemunafikan? Caranya adalah dengan menumbuhkan sikap kritis di dalam hidup beragama. Orang terbiasa untuk berpikir, bertanya dan menganalisis sebelum menerima ajaran apapun, termasuk ajaran agama. Orang menggunakan nalar dan akal sehatnya untuk mempertimbangkan, ajaran apa yang akan dipeluknya.
Sayangnya, sikap kritis pun juga kerap kali dianggap berbahaya oleh para pemuka agama. Banyak agama hidup dan berkembang dari kebodohan dan kemunafikan pemeluknya. Lembaga agama memperoleh banyak uang dan pengaruh politik, persis karena pemeluknya takut berpikir mandiri dan kritis. Yang dilestarikan kemudian adalah sikap patuh yang berdasarkan pada kepercayaan buta belaka.
        Alhasil, orang dicabut dari keunikannya, dan dipaksa untuk menyatu dengan kerumunan. Orang menjadi gerombolan yang bisa disetir untuk kepentingan politik, mengeruk uang atau bahkan mengobarkan perang. Pola semacam ini jamak ditemukan di dalam sejarah agama-agama besar dunia. Di dalam agama semacam ini, kemunafikan dan kekerasan adalah makanan sehari-hari.
Ajaran indah agama hanya menjadi buih moral yang jauh dari tindakan nyata. Para pemuka agama dan orang-orang yang mengaku saleh berkhotbah tentang pentingnya nilai-nilai luhur. Walaupun, seringkali merekalah yang menjadi pelanggar utama dari nilai-nilai yang dikoarkannya sendiri. Kemunafikan bagaikan polusi yang tersebar di udara, walaupun orang kerap kali takut mengungkapkannya.
        Sikap kritis terhadap ajaran agama akan menuntun orang ke dalam spiritualitas, yakni cara hidup spiritual yang tulus terungkap dari penghayatan batin, dan bukan dari kepercayaan buta terhadap sekelompok orang berjubah. Spiritualitas selalu bersifat revolusioner. Ia mengubah orang dari dalam. Ia mencela kemunafikan, sekaligus, pada saat yang sama, bersikap lembut dan penuh cinta pada orang-orang munafik.

Sumber :
Oleh Reza A.A Wattimena
https://rumahfilsafat.com/2016/08/07/agama-dan-kemunafikan/ 

Latihan Moralitas (sila)

A. PENGERTIAN SILA

1. Sila adalah etika atau moral yang dilakukan berdasarkan cetana atau kehendak. Etika berasal dari bahasa Yunani yaitu ETHOS yang artinya kebiasaan atau adat.
2. Oleh karena itu etika sering dijelaskan sebagai moral. Dalam pandangan Buddhis sila memiliki banyak arti antara lain: norma (kaidah), peraturan, perintah, sikap, keadaan, perilaku, sopan santun, dan sebagainya
3. Sila pertama kali diajarkan Buddha kepada lima orang pertapa ketika menyampaikan khotbah pertama di Taman Rusa Isipatana.
4. Dalam khotbah tersebut dijelaskan tentang jalan menuju lenyapnya dukkha yang dinamakan jalan tengah.
5. Dalam jalan tengah sila memiliki kelompok Ucapan benar, Perbuatan benar dan Mata Pencaharian benar. Sila merupakan dasar yang paling utama dalam pengamalan kehidupan beragama.
6. Dengan memiliki agama merupakan langkah awal yang sangat penting untuk mencapai kehidupan yang luhur. Hal tersebut disampaikan dalam Kitab Samyutta Nikaya V, 143, antara lain : “ Apakah permulaan dari batin yang luhur ? Sila yang sempurna “


B. CIRI, FUNGSI, WUJUD DAN SEBAB TERDEKAT DARI SILA

1. Ciri Sila (Lakkhana) adalah ketertiban dan ketenangan
2. Fungsi (rasa) adalah untuk menhancurkan yang salah (dussiliya) dan menjaga agar orang tetap tidak bersalah (ancajja)
3. Wujud sila (paccupatthana) adalah kesucian (soceyya)
4. Sebab terdekat adalah Hiri dan Ottapa, hiri adalah perasaan malu untuk berbuat jahat atau kesalahan, ottapa ada perasaan takut akan akibat dari perbuatan jahat. Hiri dan Ottapa disebut Lokapaladhamma atau pelindung dunia.


 C. MANFAAT PELAKSANAAN SILA

1. Manfaat sila bagi perumah tangga sesuai dengan Kitab Maha Parinibbana Sutta adalah :
• Penyebab seseorang memiliki banyak harta kekayaan
• Nama dan kemasyurannya akan bertambah luas
• Menghadiri pertemuan tanpa ketakutan dan keragu-raguan
• Sewaktu akan meninggal hatinya tenang
• Penyebab terlahir di alam surga
2. Tujuan tertinggi melaksanakan sila adalah untuk mencapai Nibbana. Nibbana tidak sama dengan surga. Bedanya: Surga adalah tempat berdiamnya makhluk yang menerima akibat perbuatan baiknya.
3. Nibbana adalah keadaan dimana semua makhluk terbebas dari tanha dan kilesa.
4. Hubungan dhamma dan vinaya sangat erat karena, mengajar dhamma tanpa vinaya sama artinya mengajarkan jalan tanpa menunjukkan bagaimana cara memulai dan menempuhnya.
5. Pahala melaksanakan sila :
• Bebas dari penyesalan
• Bebas dari penyesalan menimbulkan kebahagiaan
• Kegembiraan dapat menimbulkan kegiuran (piti)
• Kegiuran dapat menimbulkan ketenangan (passadi)
• Ketenangan akan menimbulkan pemusatan pikiran (ekaggata)
• Pemusatan akan menimbulkan pengetahuan mengenai kesunyataan (anulomanana)
• Pengetahuan mengenai kesunyataan akan mendorong untuk mencari kebenaran (muncitukannyata nana)
• Usaha untuk mencari kebebasan akan mendapatkan pengetahuan tentang kebebasan (nibbana nana)
• Pengetahuan tentang kebebasan akan membawa orang kepada kebebasan (nibbana).

 

Selasa, 23 Agustus 2016

“AKU” di dalam Penderitaan

Percikan Kebijaksanaan Timur

        Kerap kali, kita merasakan emosi yang sangat kuat. Kebencian atau kesedihan menguasai batin. Bagi banyak orang, ini merupakan masalah besar. Akibatnya, mereka jadi ganas dan jahat pada orang lain, bahkan pada orang-orang terdekatnya.

        Pikiran-pikiran mengerikan juga kerap datang tanpa diundang. Ketakutan dan kecemasan akan masa depan yang tak pasti menerkam jiwa. Penyesalan atas masa lalu yang menyesakkan dada sering datang berkunjung. Jika itu semua amat kuat dan terjadi dalam waktu lama, orang bisa sakit, entah sakit jiwa, kanker, jantung, darah tinggi maupun kelainan hormon.

        Ini semua merupakan penderitaan hidup. Banyak orang yang tak tahan dengan itu semua, sehingga bunuh diri. Banyak pula yang menekan dan menyembunyikannya dalam-dalam. Tak heran, orang yang terlihat tenang lalu tiba-tiba bunuh diri, atau didatangi penyakit mengerikan.

Penyelidikan AKU

        Ada jalan keluar sederhana yang berpijak pada kebijaksanaan Timur. Usianya sudah lebih dari 6000 tahun. Bentuknya adalah pertanyaan. Ketika emosi dan pikiran jelek (seperti kebencian, ketakutan, kecemasan dan kesedihan) datang menghantam, kita bertanya: SIAPA YANG MENGALAMI INI?

        Jawaban spontan adalah SAYA, atau AKU. Nah, disinilah letak kunci jawabannya, yakni bertanya: SIAPA AKU? APAKAH ADA YANG DISEBUT AKU? Mari kita perdalam hal ini.
AKU adalah kata dan konsep yang menggambarkan sesuatu yang bersifat tetap, yakni diriku. Namaku Reza. Kata AKU menyiratkan paham, seolah Reza itu sesuatu yang tetap, walaupun usianya menua, rambutnya mulai putih, dan sebagainya. Nah, apakah pemahaman ini benar? Apakah Reza adalah sesuatu yang tetap?

        Jawabannya jelas TIDAK. Segala sesuatu terus berubah saat demi saat di dalam hidup ini. Tidak ada SATU hal pun yang tetap. AKU dan SAYA pun terus berubah dari saat ke saat.
Maka, sebenarnya, keduanya tidak ada. AKU dan SAYA itu TIDAK ADA! Ketika kita menyebutnya, mereka segera berubah menjadi sesuatu yang lain. Aku yang kemarin bukanlah aku yang hari ini. Aku yang tadi pagi bukanlah aku yang siang ini.

        Inilah hidup. Inilah kenyataan sebagaimana adanya. Tidak ada aku, dan tidak ada orang lain. Semua itu adalah konsep dan kata yang menipu kita, seolah ada hal yang tetap di dalam hidup ini.

Fakta Alamiah 

        AKU YANG TIDAK PERNAH ADA; Fakta alamiah ini didukung oleh kebijaksanaan Timur, baik Vedanta, Buddhisme maupun Taoisme. Ia juga didukung oleh beragam penelitian ilmiah terbaru di bidang neurosains. Konsep “AKU” adalah ilusi semata yang berguna untuk kepentingan praktis belaka, seperti pencatatan penduduk atau komunikasi sehari-hari. Ia bukanlah kenyataan.
Ketika pikiran dan emosi kuat melanda, kita lalu sadar, bahwa tidak ada AKU yang mengalami semua ini. Emosi lalu sekedar emosi. Pikiran, sejelek apapun, juga hanya sekedar pikiran. Tidak ada AKU di dalamnya.

        Coba anda terapkan ini, ketika emosi dan pikiran datang melanda. Pengalaman saya, dan pengalaman jutaan orang lainnya, adalah: semua jadi terasa ringan. Emosi dan pikiran datang dan pergi begitu saja. Mereka cepat berlalu. Memaafkan dan move on menjadi semudah membalikkan telapak tangan.

        Hidup kita pun jadi ringan dan jernih. Kita lalu bisa menjalankan semuanya dari saat ke saat dengan kebahagiaan dan kedamaian hati. Orang-orang sekitar kita terbantu dengan keberadaan kita. Penderitaan bisa datang berkunjung, namun ia bisa segera pergi, tanpa jejak.
Tidak percaya? Coba saja..

Sumber :
Oleh Reza A.A Wattimena
https://rumahfilsafat.com/2016/07/20/aku-di-dalam-penderitaan/ 

Agama untuk Orang Dewasa

       
        Kehidupan beragama di Indonesia memang menarik. Di satu sisi, orang sibuk berbicara dan berdiskusi soal agama sertai nilai-nilai luhur yang ditawarkannya. Terlihat sekali, mereka ingin mendapatkan kesucian dan kemuliaan yang ditawarkan agama. Di sisi lain, korupsi, diskriminasi terhadap kelompok yang berbeda, kolusi, nepotisme, penindasan kaum perempuan dan berbagai pelanggaran lainnya tetap berlangsung, bahkan dengan tingkat yang lebih dalam dan lebih tinggi. Jelas sekali, agama belum mampu mewarnai kehidupan moral masyarakat.

Agama untuk Anak Kecil

        Sementara bangsa lain sudah berusaha mencari sumber energi alternatif, mengembangkan industri yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, serta mencari kemungkinan adanya tempat tinggal di planet lain, bangsa kita masih diskusi soal boleh-tidak boleh, suci-tidak suci dan berbagai hal remeh lainnya. Sementara kita sibuk berbicara tentang hal-hal remeh, kehidupan ekonomi, politik dan budaya kita dijajah oleh bangsa-bangsa lain. Akibatnya, kesenjangan sosial makin tinggi, dan kemiskinan tetap merajalela di Indonesia. Kita pun menjadi bangsa terbelakang yang (mengaku) religius.


        Jelaslah, agama di Indonesia masihlah agama untuk anak kecil. Anak kecil perlu diatur. Jika tidak diatur, ia akan merusak dirinya sendiri, dan orang sekitarnya. Anak kecil suka merengek, jika keinginannya tak dituruti. Anak kecil belum bisa diberikan kebebasan beserta tanggung jawab yang mengikutinya.

        Di Indonesia, agama juga masih sekedar hiasan saja. Agama dipakai untuk tampil baik dan soleh di hadapan umum, walaupun perilaku dan cara berpikir aslinya amatlah bejat dan korup. Tak heran, para koruptor tiba-tiba terlihat mengenakan pakaian agamis, ketika menjalani sidang tindak pidana korupsi. Tak heran pula, para pencuri uang rakyat rajin menyumbang ke rumah-rumah ibadah, guna menutupi kebejatan sikapnya yang sesungguhnya.

Hakekat Agama

        Jelaslah, bahwa ini tidak boleh berlangsung terus. Agama di Indonesia harus dikembalikan ke peran asalinya. Ia tidak boleh digunakan untuk kepentingan memperbodoh rakyat umum. Ia juga tidak boleh dipelintir untuk berbagai kepentingan busuk lainnya, termasuk kepentingan nafsu birahi yang tak terkontrol.

        Sejatinya, setiap agama selalu lahir dari persentuhan dengan Yang Transenden. Ia memiliki banyak nama, seperti Tuhan, Yahwe, Allah, Dewa dan sebagainya. Nama tidaklah penting. Yang penting adalah, bahwa persentuhan itu mengubah orang menjadi lebih penuh kasih, bijaksana dan bebas.

        Agama lalu menawarkan jalan bagi hidup manusia menuju perdamaian. Perdamaian itu lahir dari hati yang penuh kasih yang kemudian tampak di dalam hidup sehari-hari. Agama juga menawarkan pencerahan batin yang mendalam. Orang lepas dari kebodohan, dan masuk ke dalam pengetahuan yang sejati tentang kehidupan sebagaimana adanya.

Agama lalu menjadi penerang bagi hidup manusia. Agama ada untuk membantu manusia mengenali segala yang ada, dan menjadi penuh welas asih. Agama tidak boleh menjadi tujuan pada dirinya sendiri, apalagi dengan mengorbankan kepentingan dan kehidupan manusia. Agama yang sibuk dengan dirinya sendiri adalah agama yang sakit.

Agama untuk Orang Dewasa

        Dengan mengembalikan agama ke peran asalinya, maka kita bisa menjadi dewasa di dalam beragama. Agama untuk orang dewasa adalah agama yang membebaskan. Ia membebaskan orang dari penderitaan dan kebodohan. Berikutnya, ia memberikan kesehatan batin, dan berarti juga kesehatan badan, bagi pemeluknya.

        Agama untuk orang dewasa tidak membelenggu orang dengan aturan-aturan yang bertentangan dengan kemanusiaan dan akal sehat. Agama tersebut bisa ditafsirkan secara terus menerus, sesuai dengan perubahan jaman. Agama tersebut memelihara dan mengembangkan kehidupan di dalam segala bentuknya. Agama untuk orang dewasa tidak memenjara orang di dalam cara berpikir yang terbelakang.

        Sebaliknya, agama untuk orang dewasa mengajak orang untuk berpikir secara mandiri. Orang juga diajak untuk mendengarkan hati nuraninya secara jernih dan rasional. Agama untuk orang dewasa tidak sibuk memuntahkan aturan-aturan yang menghina akal budi seseorang. Ia bukanlah tiran yang mengambil keuntungan dari ketakutan dan kebodohan manusia.

Tidak Gampang Dipelintir

        Agama untuk orang dewasa mengajarkan, bahwa kita semua, sejatinya, adalah satu. Warna kulit, ras, bahasa, jenis kelamin, dan orientasi seksual boleh berbeda. Namun, itu semua hanya permukaan belaka. Inti diri kita, dan semua mahluk di alam semesta ini, adalah satu dan sama.

        Agama untuk orang dewasa tidak mudah dipelintir untuk kepentingan memecah belah. Ia tidak memisahkan orang berdasarkan warna kulit, ras, jenis kelamin dan orientasi seksual. Ia tidak bisa dipakai untuk membenarkan penindasan pada manusia lain, ataupun pada alam. Ia kebal dari permainan politik, ekonomi ataupun pembodohan publik.

        Ketika ada upaya untuk memelintir agama demi mencapai kepentingan-kepentingan rakus dan busuk, sikap kritis otomatis akan muncul. Orang akan mengajukan pertanyaan, berdebat dan bahkan berdemonstrasi di jalan, demi meluruskan kembali agamanya ke jalan yang luhur. Sayangnya, ini belum terjadi di Indonesia. Berulang kali, agama digunakan sebagai kendaraan politik untuk memenuhi kerakusan manusia belaka.

        Namun, kita hanya terdiam menyaksikan. Bahkan, kita ikut bermain di dalamnya, dan memperoleh keuntungan darinya. Akibatnya, agama semakin terpuruk di dalam permainan politik dan ekonomi yang penuh kebusukan. Jika sudah begitu, kita semua yang rugi. Sampai kapan kita mau beragama seperti ini?

Oleh Reza A.A Wattimena
Sumber : https://rumahfilsafat.com/2016/06/13/agama-untuk-orang-dewasa/

Ateism



       Ateisme adalah tema yang kontroversial. Orang yang mengaku dirinya ateis sering dicap tidak bermoral, dan jelmaan setan. Namun kenyataan berbicara berbeda. Ternyata ada orang yang menyatakan dirinya ateis hidup amat bermoral, dan memiliki etos kerja amat baik. Apa yang terjadi? Darimana ia memperoleh sumber nilai moralnya, jika bukan dari agama? 

       Inilah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Edvin Mario Suryawan, ketika menjadi pembicara dalam diskusi System Thinking Ateisme, yang dilakukan di Fakultas Psikologi, UNIKA Widya Mandala Surabaya dalam kerja sama dengan Fakultas Filsafat di universitas yang sama. Pertanyaan ini lahir dari penelitian yang dilakukan oleh Edvin untuk skripsinya di Fakultas Psikologi. Diskusi berjalan dari pk. 09.15-11.30 pada Sabtu 9 April 2011.
       Definisi ateisme itu licin bagai belut. Tak ada yang sungguh persis menggambarkan fenomena ini, baik secara individual maupun sebagai gejala sosial. Namun setelah melalui proses diskusi panjang, kelompok diskusi ini menyepakati satu definisi; ateisme sebagai penolakan terhadap keberadaan Tuhan, maupun entitas-entitas lain yang menyerupainya (supranatural). Walaupun tak sempurna namun definisi ini bisa digunakan sebagai titik pijak untuk penelitian lebih jauh. 

       Jika tidak ada Tuhan, lalu mengapa orang harus hidup baik? Dari mana orang menemukan nilai-nilai luhur, jika Tuhan dalam agama tidak mewahyukan itu padanya? Inilah dua masalah yang menjadi pergulatan Edvin, ketika memulai penelitiannya soal ateisme. Di dalam penelitian singkat ditemukan, bahwa ternyata orang-orang yang mengaku dirinya ateis cenderung lebih bermoral dalam hidupnya, daripada orang-orang yang amat berbangga menyatakan dirinya beragama. 

       Orang ateis tidak melakukan diskriminasi. Sementara banyak orang beragama melakukannya. Orang ateis tidak pernah memusuhi kelompok yang lain dari mereka. Sementara orang beragama rutin melakukannya. Inilah hasil dari penelitian singkat yang sebelumnya telah dilakukan oleh Edvin. Pertanyaannya lalu; mengapa ini terjadi?
Setelah melakukan diskusi cukup panjang, kelompok System Thinking sampai pada hipotesis, bahwa sumber moralitas bagi kaum ateis adalah akal budi. Mereka tidak berpijak pada iman pada agama tertentu, melainkan pada penalaran rasional, guna menentukan apa yang baik dan apa yang tidak. Tak heran di negara-negara yang terdiri dari mayoritas warga ateis, tata kota dan pemerintahannya amat rasional dan efisien. Hipotesis ini tentu masih perlu untuk diuji dan diteliti lebih jauh. 

       Namun masih ada beberapa pertanyaan yang menggantung, seperti apakah benar orang-orang beragama selalu irasional? Mungkinkah orang bisa menjadi ateis, ketika secara genetis, orang sudah selalu terarah pada Tuhan yang mungkin saja menciptakannya? Penelitian tentang ateisme dan problematik di belakangnya masih amat ketinggalan di Indonesia. Penelitian yang dilakukan Edvin ini amat berguna, supaya bangsa kita lebih terbuka pada beragam bentuk kehidupan, dan secara rasional menanggapinya.
Diskusi berakhir pada pk. 11.30. Edvin tampak kebingungan. Ia tampak memiliki banyak ide di kepalanya tentang ateisme, namun kesulitan untuk menuangkannya secara sistematis. Itu wajar. Inilah penelitian. Inilah proses belajar. Kita perlu lebih banyak melakukan diskusi-diskusi semacam ini, guna menajamkan penelitian yang tengah berlangsung. 


Penulis adalah Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya
Oleh Reza A.A Wattimena
https://rumahfilsafat.com/2011/04/11/ateisme-dan-problematik-di-belakangnya/#more-1227 

Manfaat Menjalankan Sila Buddhis

Manfaat Sila
Oleh Yang Mulia Bhikkhu Uttamo Thera


Kalau kita mengamati ajaran Sang Buddha maka kita akan sampai pada satu kesimpulan pokok bahwa sesungguhnya ajaran Sang Buddha bukan hanya sekedar upacara sembahyang saja, atau bahan diskusi, bahkan bukan pula merupakan suatu pengetahuan umum. Tetapi lebih dari itu, ajaran Sang Buddha membutuhkan pelaksanaan di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dalam salah satu kotbahnya, Sang Buddha menyatakan: "Dhamma Care Sukham Seti", yang berarti: mereka yang melaksanakan Dhamma, merekalah yang akan memperoleh kebahagiaan. Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa sesungguhnya Dhamma adalah untuk dilaksanakan.

Sekarang yang menjadi persoalan adalah bagaimanakah pelaksanaan Dhamma itu? Sesungguhnya pelaksanaan ajaran Sang Buddha itu banyak dapat kita temukan di dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah melatih kesabaran. Walaupun kesabaran ini sering dikumandangkan di mana-mana, tetapi dalam pelaksanaannya hal tersebut seringkali menimbulkan pertentangan. Tentu bukanlah suatu hal yang mudah untuk melatih kesabaran di dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi mereka yang masih muda dan penuh semangat. Sebaliknya apabila kita mampu mengolah dan menyalurkan energi dan semangat menjadi hal-hal yang positif maka hal tersebut akan bermanfaat sekali. Lalu bagaimanakah cara melatih kesabaran itu, terutama bagi kita yang masih muda? Salah satu cara sederhana yang telah menjadi petunjuk untuk melatih kesabaran adalah dengan melaksanakan "sila", 5 (lima) sila setiap hari dan 8 (delapan) sila pada hari-hari tertentu. Tentu hal ini akan menimbulkan pertanyaan: Bagaimanakah hubungan sila dengan melatih kesabaran?

Untuk itu mari kita tinjau sila yang pertama. Sila yang pertama adalah tidak melakukan penganiayaan maupun pembunuhan terhadap makhluk- makhluk yang bernapas (mempunyai napas). Penganiayaan dan pembunuhan merupakan dua hal yang saling berdekatan. Pembunuhan yang tidak sukses disebut penganiayaan. Sebaliknya penganiayaan yang sukses disebut pembunuhan. Mengapa pembunuhan dan penganiayaan bisa mempunyai hubungan dengan kesabaran? Misalnya di rumah kita ada seekor kecoa; apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan menginjak kecoa itu ataukah kita biarkan saja? Ini adalah pilihan untuk mengukur sampai sejauh mana sila bisa kita laksanakan di dalam kehidupan sehari-hari. Sila yang dilaksanakan dengan baik akan menjadi "rem" otomatis untuk perbuatan-perbuatan kita, sehingga pelaksanaan sila pertama di dalam kehidupan sehari-hari dengan sendirinya merupakan suatu cara untuk melatih kesabaran.

Sila yang kedua adalah menghindari mengambil barang yang tidak diberikan dengan sah atau bukan miliknya. Ini pun ada hubungannya dengan melatih kesabaran. Misalnya kita tinggal di satu rumah kost, dan kebetulan teman sekamar kita sedang pulang kampung, padahal kita ingin meminjam pakaiannya. Akhirnya kita memakai pakaian tersebut tanpa sepengetahuannya. Setelah selesai, pakaian tersebut kita kembalikan seperti keadaan semula. Perbuatan meminjam pakaian teman kita itu dapat dikatakan termasuk pelanggaran sila kedua, karena perbuatan tersebut adalah mengambil barang yang tidak diberikan dengan sah dan tanpa izin. Jadi sila kedua tidak selalu berarti mencuri milik orang lain.

Sila yang ketiga adalah tidak melakukan pelanggaran kesusilaan. Di zaman yang serba canggih dan modern ini, orang seringkali ingin melangsungkan segala sesuatunya dengan serba cepat dan singkat. Bahkan hal tersebut sudah terkenal di kalangan generasi muda. Hubungan seks pranikah dan kehamilan usia remaja bukanlah suatu hal yang asing dan tabu lagi di zaman yang serba cepat ini. Kalau para generasi muda yang mempelajari sila di dalam agama Buddha masih bertingkah-laku demikian maka sesungguhnya sila ketiga ini baru sampai taraf ilmu pengetahuan saja, belum sampai pada pelaksanaan. Tetapi kalau kita mau melaksanakan sila, tentu kita akan berusaha untuk bersabar. Dan sila ini akan menjadi rem otomatis sehingga tidak terjadi pelanggaran terhadap kesusilaan. Ini adalah melatih kesabaran.


Demikian juga dengan sila yang keempat, yaitu menghindari ucapan yang tidak benar; misalnya dengan tidak berbohong. Contoh yang sederhana misalnya: setelah selesai kebaktian, kita ikut membereskan altar. Kita membantu membawakan barang-barang ke bawah. Tetapi ketika itu barang yang kita bawa jatuh menggelinding dan rusak. Kita kemudian ditanya: "Kamu membawanya tidak hati-hati, ya?" Apa jawaban kita? "O... tadi saya disenggol orang." Jawaban ini memberi kesan seolah-olah pada waktu memegang barang tadi, kita disenggol orang. Padahal kita disenggol orang ketika belum memegang apa-apa. Ini sebetulnya adalah suatu kebohongan. Mengapa kita berbohong? Mengapa kebohongan ini menjadi tidak sabar? Kita bohong karena kita takut dimarahi dan malu pada teman-teman yang lain. Hal inilah yang mendorong kita menjadi tidak sabar dan berbohong. Oleh karena itu melatih tidak berbohong, dengan mengatakan yang sejujurnya, hal tersebut sesungguhnya juga merupakan suatu cara untuk melatih kesabaran.

Sila yang kelima adalah menghindari segala minuman keras yang dapat menyebabkan lemahnya kesabaran. Bagaimanakah hubungan sila kelima ini dengan melatih kesabaran? Ada sebagian orang yang cenderung lari dari kenyataan apabila sedang menghadapi permasalahan yang berat, yang tidak bisa diselesaikan dengan segera, yaitu dengan jalan mabuk-mabukan. Karena mabuk-mabukan itu adalah salah satu cara untuk melarikan diri dari permasalahan. Tetapi kalau kita mau bersabar, berusaha menghadapi kenyataan sebagaimana adanya; sesungguhnya hal tersebut merupakan suatu latihan kesabaran.

Selanjutnya, sila yang keenam adalah menghindari makan-makanan setelah tengah hari. Batas waktu makan yang diberikan adalah antara pukul 06:00 pagi sampai dengan pukul 12:00 siang. Meskipun demikian, hal ini tidak berarti bahwa selama jangka waktu tersebut lalu kita makan sesering mungkin. Bukan demikian, tetapi kita berusaha untuk menggunakannya sesedikit mungkin. Bahkan kadang-kadang digunakan hanya 2 kali saja, yaitu pukul 07:00 pagi dan pukul 11:00 siang.

Apa hubungannya melatih kesabaran dengan tidak makan?

Sebagai umat Buddha yang meyakini Hukum kelahiran kembali, sebetulnya kita sudah mengalami kelahiran berjuta-juta kali. Begitu pula halnya dengan kelaparan. Tentu sudah berjuta-juta kali pula kita merasakan lapar. Dengan mengendalikan keinginan makan yang telah muncul berjuta-juta tahun yang lampau; secara tidak langsung sebetulnya hal tersebut juga merupakan latihan untuk mengendalikan emosi. Mengapa demikian? Kalau kita mampu mengendalikan keinginan makan yang telah muncul berjuta-juta tahun yang lampau, mengapa kita tidak bisa menahan diri untuk tidak marah, misalnya. Dengan cara itu kita bisa menghadapi segala sesuatunya dengan tenang dan tidak emosi. Walaupun cara menahan makan ini merupakan suatu cara yang sederhana, tetapi cara ini ada kaitannya dengan kesabaran.

Kemudian sila yang ketujuh adalah melatih diri untuk tidak menggunakan wangi-wangian, tidak menggunakan perhiasan, tidak bersenang-senang, tidak bermewah-mewah. Demikian pula halnya dengan sila yang ke delapan yaitu mengurangi duduk dan berbaring di tempat yang mewah. Bagaimanakah hubungan sila ke tujuh dan sila ke delapan ini dengan melatih kesabaran? Kadang-kadang kita ingin menunjukkan 1 hal yang lebih kepada orang lain. Misalnya dengan memakai wangi-wangian. Tetapi kalau kita berusaha mengurangi ke-aku-an, yaitu dengan memakainya pada waktu-waktu tertentu saja, maka hal tersebut sesungguhnya merupakan suatu cara untuk melatih kesabaran. Meskipun demikian, hal tersebut tidak berarti bahwa kita sebagai umat Buddha tidak boleh menggunakan wangi-wangian/perhiasan, tidak boleh bersenang-senang/bermewah-mewahan. Di sini kita perlu menyadari bahwa tidak setiap keinginan yang muncul harus dilaksanakan. Kadang-kadang ada keinginan yang harus kita tunda pelaksanaannya. Inilah yang disebut dengan melatih kesabaran.


Inilah cara-cara untuk melatih kesabaran, cara untuk melaksanakan ajaran Sang Buddha. Dengan menjalankan "sila"atau latihan kemoralan, yaitu 5 sila setiap hari dan 8 sila pada hari-hari tertentu misalnya pada hari uposatha setiap tanggal 1 dan 15 menurut penanggalan bulan/imlek, berarti Saudara berusaha untuk melatih kesabaran, mengurangi ke-aku-an, ketamakan, kebencian dan kegelapan batin.

Oleh karena itu, jadilah umat Buddha yang melaksanakan ajaran Sang Buddha. Bukan hanya menjadikan ajaran Sang Buddha sebagai pengetahuan umum, tetapi menjadikan ajaran Sang Buddha sebagai jalan hidup.


Sehingga akhirnya seperti sabda Sang Buddha: "Dhamma Care Sukham Seti", mereka yang melaksanakan Dhamma, merekalah yang akan memperoleh kebahagiaan. Dengan melaksanakan 5 sila setiap hari dan 8 sila pada hari-hari tertentu maka Saudara akan memperoleh kebahagiaan.

[Dikutip dari Website Samaggi-phala. WWW.Samaggi-Phala.or.id .]

Petika kata kata Bhikkhu Uttamo

“Petikan Kata Kata Bhikkhu Uttamo”

1. Bagai teratai yang jatuh ke lumpur. Ia tidak mengeluh atas kekotoran yang ada di sekitarnya. Ia justru menggunakan kekotoran itu untuk tumbuh subur.
Teratai bahkan tidak ternoda oleh lumpur maupun air tempat ia bertumbuh.
Demikian pula orang yang terlahir di lingkungan kurang ideal. Ia hendaknya tidak mengeluh namun menggunakan kondisi tersebut untuk mencapai kemajuan batin secara maksimal.

2. Segala yang datang, HADAPI. Segala yang telah pergi, JANGAN DICARI.
Segala yang belum datang, JANGAN DINANTI.

3. Segala sesuatu yang menjadi milik tidak akan pernah terlepaskan. Segala sesuatu yang bukan milik tidak akan pernah diperoleh. Semua mahluk hanya menerima segala yang memang sudah menjadi miliknya.

4. Masa lalu hanyalah kenangan. Jadikan pelajaran. Masa depan masih impian Jadikan pedoman. Masa sekarang adalah kenyataan. Gunakanlah secara maksimal.

5. Katakan MEMANG. Jangan tanyakan ‘Kenapa’ Atas segala sesuatu yang sedang dialami maupun dijalani.

6. Ubahlah pernyataan menjadi PERTANYAAN Untuk mampu berkomunikasi dengan bijaksana kepada siapapun.

7. Ketika memiliki kemauan, maka tentu ada jalan. Jika tidak ada jalan, BUATLAH jalan untuk mencapai harapan.

8. Stress adalah perbedaan antara harapan dengan kenyataan. Mampu mengubah harapan agar sesuai kenyataan menimbulkan kebahagiaan.

9. Harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Kenyataan tidak selalu sesuai harapan. Seseorang hanya mampu mengubah harapan. Ia tidak akan pernah mampu mengubah kenyataan. Harapan yang disesuaikan kenyataan mampu memberikan kebahagiaan.

10. Hidup berisi perubahan. Berubahlah untuk mengisi kehidupan.

11. Bersahabatlah dengan waktu. Walau waktu hanyalah khayal. Kenyataan hanyalah saat ini. Bukan masa lalu maupun masa depan. Menjadikan waktu sebagai sahabat. Banyak masalah dilalui. Satu
demi satu. Akhirnya bahagia timbul juga.

Semoga Anda Selalu Berbahagia
Semoga Semua Makhluk Berbahagia
Semoga Demikianlah Adanya
Mettacittena,
B.Uttamo

Sumber: BC dari teman